I. berfokus pada komunitas keamanan atau budaya keamanan,

        I.           PendahuluanMenanggapiberakhirnya Perang Dingin dan meningkatnya laju globalisasi, konsep keamananmanusia telah menjadi hal penting dalam hubungan internasional. Essai ini memperdebatkanbahwa sementara pendekatan konvensional terhadap studi keamanan berfokus padakomunitas keamanan atau budaya keamanan, perspektif konstruktivis menawarkanalat konseptual tambahan melalui wawasannya tentang isu-isu kesadaran manusia,identitas nasional, dan pembentukan minat. Oleh sebab itu, berbagai fenomenapenting masyarakat internasional dapat lebih dipahami dengan menerapkan wawasankonstruktivisme terhadap konsep keamanan manusia.Tujuan utama essaiini adalah untuk mengeksplorasi keamanan manusia sebagaimana dijelaskan oleh perspektifkonstruktivis. Mengingat analisis ini, isu spesifik akan diperiksa, termasukhubungan antara keamanan manusia dan konstruktivisme, interpretasi keamananmanusia oleh sarjana konstruktivis, dan implikasi keamanan manusia untukkonstruktivisme.

 “Negara bagian tetap menjadi pemasokfundamental keamanan. Namun sering gagal memenuhi kewajiban keamanannya…Itulahsebabnya perhatian sekarang harus bergeser dari keamanan negara menjadikeamanan rakyat – untuk keamanan manusia.”– Komisi KeamananManusia, 2003      II.

           Latar BelakangBerakhirnyaPerang Dingin dan meningkatnya laju globalisasi telah meningkatkan perubahanmendasar dalam banyak paradigma yang digunakan dalam ilmu sosial. Di antaraberbagai gagasan baru yang telah muncul, “keamanan manusia” telah menjadi semacamkata kunci. Ini telah dianut oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dannegara-negara seperti Kanada dan Jepang telah memproklamirkannya sebagaiprinsip panduan kebijakan luar negeri mereka (Tsai dan Tan, 2007).

Dimulai padapertengahan tahun 1990an, konsep keamanan manusia mulai terlihat mempengaruhidan menantang politik, institusi, dan pemerintahan global. (Oberleitner, 2005:185). Namun, lebih dari satu dekade setelah kemunculannya, definisi keamananmanusia tetap diperebutkan dalam ruang lingkup dan utilitasnya. (Oberleitner,2005: 186; Acharya, 2002).Tujuan utama essaiini adalah untuk mengeksplorasi konsep keamanan manusia dengan memanfaatkanperspektif konstruktivis. Berbeda dengan pendekatan konvensional terhadap studikeamanan yang berfokus pada komunitas keamanan atau budaya keamanan, perspektifkonstruktivis menawarkan wawasan tentang sejumlah dimensi tambahan, termasukkesadaran manusia, identitas nasional, dan pembentukan minat. Oleh karena itu,konsep keamanan manusia lebih bermakna jika dilihat melalui lensa teoritiskonstruktivisme (Wendt, 1992: 391-425; Ruggie, 1998: 856-858).    III.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

           Definisi KeamananManusiaPada tahun 1994, United Nations Development Program’s(UNDP) Human Development Report (HDR)memperkenalkan cara berpikir baru tentang integrasi masalah keamanan danglobalisasi. Laporan ini mendefinisikan keamanan manusia berdasarkan tujuhdimensi: keamanan pribadi, lingkungan, ekonomi, politik, masyarakat, kesehatan,dan pangan (UNDP, 1994: 24-25). Selain itu, laporan tersebut mengadopsi konsepkeamanan “people-centric” sebagaifokusnya dibandingkan konsep tradisional yang berpusat pada negara (UNDP, 1994:24-33). Penekanan baru pada keamanan manusia ini melengkapi konsep keamanantradisional dan mewakili munculnya paradigma baru di lapangan.Keamanan manusiamenekankan hak dan kepentingan individu, yang sering diabaikan oleh masyarakatinternasional.

Keamanan nyata memerlukan perlindungan individu dari ancamanseperti penyakit, kelaparan, pengangguran, penindasan politik dan degradasilingkungan (Tsai dan Tan, 2007: 8-9). Sebagai konsep keamanan multilevel danluas, mencakup aspek keamanan tradisional dan non-tradisional. Ini tidak hanyaberfungsi sebagai cetak biru untuk memecahkan masalah manusia, namun jugamenawarkan solusi yang dapat diterapkan oleh kekuatan tengah (Paris, 2001: 88).Gagasan tentang keamanan manusia sebagai kebebasan dari keinginan telah dipromosikanoleh Jepang, dan telah dipromosikan sebagai kebebasan dari ketakutan olehKanada, Norwegia dan anggota Jaringan Keamanan Manusia (Human Security Network/ HSN) (Shinoda, 2007; Dedring, 2008). Dengan demikian Kofi Annan (2005) telahmenunjukkan tiga pilar konsepsi keamanan manusia yang lebih luas ini: kebebasandari keinginan, kebebasan dari ketakutan, dan kebebasan untuk hidupbermartabat.