Isu berkembangnya globalisasi, terorisme global menyebar begitu cepat

Isu terorisme global merupakan isu yang menjadi fokusutama bagi keamanan di setiap negara.

Dengan berkembangnya globalisasi,terorisme global menyebar begitu cepat di setiap negara dan membangun jaringannya dengan kelompok yang berbeda-beda. Dengan dikejutkan ketika runtuhnyagedung World Trade Center dan Pentagon di New York Amerika Serikat yang terjadipada tanggal 11 September 2001, peristiwa yang biasa disebut 9/11 tersebutmenjadikan titik munculnya para kelompok teroris global untuk menyebarkan teror.Pasca peristiwa tersebut, pemerintah Amerika Serikat secara cepat menyebarkanpaham “global war on terrorism” untukmengajak dunia internasional dalam memerangi ancaman terorisme global (Shah, 2001). Respon Amerika Serikat terhadapterorisme merupakan awal dari terbentuknya sebuah susunan politik dunia yangditandai oleh munculnya berbagai ancaman dari kelompok-kelompok teroris lainyang mengancam di negara-negara yang berbeda (Morgan,2009).Tercetusnya doktrin globalwar on terror oleh Amerika Serikat, menimbulkan pengaruh bagi Indonesiayang dikategorikan sebagai negara yang penduduknya memeluk agama Islam terbesardi dunia (Bond, 2005). Setelah peristiwa9/11, frekuensi serangan teror di Indonesia cukup tinggi dan terjadi secaraberuntun. Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu negara yang menjadi sasaranaksi terorisme dan dilihat sebagai salah satu negara yang memiliki jaringankuat dengan kelompok-kelompok teroris di timur tengah (Kurlantzick, 2011). Beberapa peristiwa yang terkait dengan aksiterorisme di Indonesia salah satunya yaitu peristiwa bom Bali 1.

Peristiwa yangterjadi pada tanggal 12 Oktober 2002 di Paddy’s Cafe & Sari Club, jalanLegian Kuta Bali. Peristiwa ini dianggap sebagai teror yang mengguncangIndonesia dan dunia global, karena peristiwa tersebut merupakan peristiwaterbesar pasca terjadinya 9/11 hingga menelan 202 korban tewas dan 209 orangluka-luka yang secara mayoritas korbanya adalah para turis asing yang berasaldari berbagai negara yaitu Eropa, Amerika, Asia dan korban terbanyak berasaldari Australia. Peristiwa tersebut telah menyadarkan dunia internasional bahwajaringan terorisme kini telah nyata dan tumbuh di Indonesia.Serangan bom Bali merupakan salah satu serangan terorismeskala besar setelah terjadinya peristiwa 9/11, hal ini menjadi titik balik baginegara-negara di dunia dalam memperkuat strategi keamanan nya di bidangkontra-terorisme. Bagi negara-negara lain, serangan terorisme di Bali ini menjadibukti bahwa keberadaan kelompok terorisme adalah hal yang nyata, mengancam danmenjadi perhatian bagi dunia global. Pasca tragedi bom Bali 1, Indonesia terusdiguncang dengan serangan teror yang beruntun di tahun-tahun berikutnya dengantragedi peledakan bom di depan kedutaan Besar Australia di Indonesia pada tahun2003 dan juga peledakan bom di Hotel JW Marriot 2004 yang kemudian disusulkembali dengan tragedi bom Bali II yang terjadi pada 1 Oktober 2005 (Carnac, 2016).

Maraknya serangan-serangan terorisme yang terjadi diIndonesia dalam jangka waktu 2002-2005 ini secara tidak langsung telahmempengaruhi hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Australia yangdisebabkan karena seringnya warga negara Australia menjadi korban dalamserangan terorisme di Indonesia. Serangan-serangan terorisme ini tidak bisa dianggapremeh dan serangan-serangan terorisme tersebut dipandang sebagai ancaman bagidunia internasional karena membutuhkan penanganan yang serius tidak hanya satunegara saja. Pemerintah Australia meyakini bahwa peristiwa 9/11 dan bom Bali Ibeserta peristiwa-peristiwa terorisme beruntun yang kerap melanda Indonesiamemiliki hubungan yang erat dengan adanya kelompok Jemaah Islamiah yang berasaldari Asia dan memiliki hubungan dengan jaringan Al- Qaeda (Global Security, 2011). Dampak dari peristiwatersebut telah menimbulkan suasana teror dan rasa takut yang meluas yangtentunya akan merubah sikap dan kebijakan yang diambil Australia terhadapIndonesia, khususnya meningkatkan kembali dan menciptakan kerjasama baru dalammelawan terorisme ini.Kerjasama di bidang kontra-terorsime oleh Indonesia danAustralia dapat dilihat salah satunya melalui Joint Investigation and Intelligence Team to Investigate Bali Bombingyaitu kerjasama yang dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia dengan Australian Federal Police (AFP) denganmembentuk suatu badan intelijen anti-teror yang tujuannya untuk melakukaninvestigasi bersama dalam mengungkap kasus bom Bali I (Mcbeth, 2003).

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Keberhasilan penyelidikan ini menjadi titik balikbagi hubungan Indonesia-Australia, yang sebelumnya sempat memburuk akibatmasalah Timor Timur di tahun 1999 (Chalk, 2001).Kerjas ama antara Kepolisian Indonesia dan AustralianFederal Police dalam melakukan penyelidikan dan sekaligus mengungkap kasusbom Bali 1 telah membuktikan bahwa kedua negara memiliki tujuan yang sama dalammelawan terorisme. Setelah kasus bom Bali I dapat disadari bahwa Indonesia danAustralia merupakan dua negara yang dikategorikan sebagai negara yang palingmendapat dampak terberat atas kejadian tersebut karena banyak warga Australiayang menjadi korban dan Bali terkena dampak di sektor pariwisata Indonesia (Heyden, 2015). Peristiwa yang terjadi setelahserangan bom Bali I, Indonesia dan Australia sepakat bekerja sama danmeningkatkan hubungan nya karena kedua negara ini menganggap bahwa terorismemerupakan kejahatan yang terorganisir dan struktur jaringannya sangat luas, sehinggamembutuhkan perhatian serius dari kedua negara(Departement of Foreign Affairs and Trade, 2006).Kerja sama lain yang dilakukan adalah terbukti daridisepakatinya Memorandum of Understandingon Combating International Terrorismpada tahun 2002 yang merupakan langkah awal dari persetujuan kedua negara untukmenjaga keamanan kawasan dari ancaman terorisme(Kementerian Luar Negeri Indonesia, 2002). Isi dari MoU ini adalah keduanegara sepakat untuk saling bertukar informasi intelijen dalam upaya mencegah,memberantas, dan memerangi terorisme internasional. Selain kesepakatan MoUtersebut, kedua negara juga sepakat menandatangani sebuah kerangka perjanjiankerjasama keamanan di Lombok yang disebut dengan perjanjian Lombok (LombokTreaty) pada November 2006 (Departement ofForeign Affairs and Trade, 2006).

Perjanjian tersebut memfokuskan padakerja sama kontra-terorisme, namun lebih mencakup kepada kerjasama pertahanandan keamanan serta memperkokoh hubungan bilateral kedua negara yang kemudianmempererat kembali hubungan kerjasama antar kedua negara. Melihat dari perkembangan kerja sama antar kedua negaraini, terlihat bahwa setelah peristiwa bom Bali I terjadi peningkatan kerja samadalam berbagai sektor, khususnya pada sektor kontra-terorisme, serta dampak darikerja sama kedua negara tersebut pada periode 2002-2011 ini cukup baik, namunmasih terjadi beberapa serangan teror selanjutnya dan keamanan di Indonesiadikatakan belum cukup aman, contohnya seperti, serangan bom di Hotel JW Marriotpada tahun 2003, bom di Kedutaan Australia pada tahun 2004, bom Bali II padatahun 2005, bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada tahun 2009. Kerjasama kontra-terorisme dan dampak yang diperoleh untuk keamanan Indonesia akanmenarik untuk dianalisa lebih lanjut dengan perbandingan yang akan dilakukanoleh penulis, dan menjadi pelajaran bagi strategi kontra-terorisme saat ini.