Latar Dalam pemasaran, storytelling dapat dianggap hal yang

Latar BelakangStorytelling merupakan seni yang telah ada sejak zaman dahulu. Manusia menggunakan storytelling sebagai media untuk bercerita tentang pengalaman mereka. Storytelling merupakan bentuk komunikasi manusia, manusia memilikki keinginan untuk mendengarkan cerita dan juga ingin bercerita. Cerita yang disampaikan bisa berupa kejadian nyata (non fiksi) maupun tidak nyata (fiksi). Kehidupan manusia dibentuk dengan berbagai cerita pengalaman yang baik dan bercerita dapat meningkatkan kekuatan imajinasi manusia, cerita memilikki kekuatan untuk memotivasi dan menarik emosi seseorang. Cerita adalah sebuah perjalanan yang dapat menggerakan pendengarnya, ketika pendengar mengikuti perjalanan tersebut maka mereka akan merasakan cerita tersebut. Storytelling tidak hanya bertujuan untuk membagi pengetahuan, tetapi juga untuk mempersuasi hingga menimbulkan suatu gerakan yang dapat menggerakan seseorang, dan setiap orang bisa berpartisipasi, karena setiap orang memilikki cerita tersendiri yang bisa diceritakan(Masalah, 1986).Pada perkembangannya storytelling tidak hanya digunakan untuk bercerita tentang pengalaman pribadi ataupun bercerita dongeng kepada anak-anak. Iklan merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan. Suatu perusahaan menggunakan iklan untuk mengenali produk mereka kepada masyarakat. Pada masa kini penggunaan storytelling dalam iklan cukup diminati.  Dalam pemasaran, storytelling dapat dianggap hal yang yang cukup asing terdengar namun memilikki potensi yang sangat besar. Storytelling berfungsi untuk mengenalkan produk pada konsumen sekaligus memasarkannya.  Suatu cerita bisa membentuk posisi strategis pada perusahaan, dengan mendefinisikan dan menyelaraskan merek dan memastikan bahwa komunikasi bisa memperkuat cerita dan membangun suatu merek. Storytelling memilikki nilai dan emosi serta sense of quality pada suatu produk(Indonesia et al., 2012 .)Teknik storytelling digunakan oleh perusahaan untuk membangun hubungan emosional antara karyawan, pelanggan dan target audiens dengan menyampaikan pesan berisi merek sehingga tercipta respons emosional dan kesepahaman. Sebuah konsep marketing harus mampu membangun sebuah storytelling yang kuat untuk dapat membangun merek sehingga meningkatkan minat beli produk pada konsumen. Beberapa merek maupun produk yang beredar di pasaran sudah memakai storytelling sebagai teknik beriklan. Penggunaan storytelling dimaksudkan untuk membangun hubungan antara konsumen dengan merek yang dipasarkan.Storytelling mencakup cerita fiksi maupun non fiksi. Penggunaan storytelling dalam pemasaran merupakan salah satu contoh cerita non fiksi. Pemasaran digunakan untuk menjual cerita dari suatu produk. Cerita merupakan akun simbolik dari aksi kehidupan manusia yang memiliki dimensi temporal. Cerita memiliki tahap awal, tengah dan akhir(“storytelling dan pemasaran (ikea),” n.d.). Cerita dibuat melalui fase-fase dengan koherensi dan kejadian dalam cerita disusun untuk mendemonstrasikan fase-fase ini. Dalam televisi dan media lainnya, peran dan kegunaan cerita atau elemen cerita sudah dibangun. Ketika informasi melalui televisi dipresentasikan melaluiformat naratif, pesan lebih mudah diproses dan diingat. Pengiklan memahami mengenai keuntungan naratif dan menggunakan format ini untuk iklan. Iklan naratif jika dibandingkan dengan tipe lainnya yakni iklan informatif dan gambar diingat secara lebih baik dan dinilai lebih disukai. Storytelling merupakan alat yang efektif untuk digunakan, namun cerita harus dipilih secara benar dan disesuaikan dengan keadaan. Beberapa tujuan yang bisa dicapai melalui storytelling ialah memicu aksi, mengkomunikasikan siapa diri anda, transmisi nilai, mendorong perubahan, menjinakan selentingan, membagikan pengetahuan, dan memimpin orang-orang menuju masa depan.Penggunaan storytelling tersebut banyak diaplikasikan baik untuk meningkatkan penjualan ataupun membangun hubungan antara merk dan konsumen. Fenomena ini dapat kita lihat dalam beberapa merk, seperti Oreo dan Indomie. Indomie memiliki posisi yang kuat di Indonesia didukung oleh fakta bahwa merk Indomie merupakan merk mie instan yang paling pertama hadir di Indonesia (tahun 1970, sedangkan kala itu kompetitor pertamanya adalah Sarimi yang pertama kali diproduksi pada tahun 1982). Melalui program kampanye mereka “Cerita Indomie” yang kurang lebih dilaksanakan pada tahun 2011 dengan mengajak konsumen berbagi pengalaman mereka dengan Indomie. Kemudian merk yang sekarang tengah cukup viral diperbincangkan dalam dunia daring, Oreo. Melalui kampanye mereka yang bertajuk “Nikmati Oreo Sesukamu”. Kampanye ini hampir memiliki konsep yang sama dengan “Cerita Indomie”. Kedua kampanye tersebut juga hadir dalam berbagai jenis media sosial sesuai dengan target mereka. Seperti halnya keduamerk tersebut, Dancow juga memakai konsep storytelling dalam program mereka. Yakni Melalui Dancow Parenting Center. Meskipun Dancow Parenting Center memanfaatkan berbagai bentuk media konvensional, program ini juga hadir dalam berbagai akun media sosial seperti Facebook dan Twitter. Penggunaan media sosial dalam kampanye tersebut banyak mencantumkan unsur storytelling yang melibatkan konsumen untuk turut memberikan cerita kepada produk (dalam hal ini Dancow). Akun media sosial Dancow Parenting Center di jejaring sosial Facebook dan Twitter merupakan sarana konsultasi secara tidak langsung bagi konsumen. Posisi media sosial dalam penelitian ini, peneliti anggap menarik dan unik karena perputaran pesan di dalam sebuah forum media sosial tersebut menghasilkan sebuah siklus pembentukan storytelling.Salah satu perusahaan yang menerapkan teknik storytelling dalam memasarkan produknya adalah IKEA Indonesia. IKEA adalah perusahaan yang bergerak di bidang furniture atau perabot rumah tangga dengan kantor pusat di Swedia. Strategi pemasaran yang digunakan oleh IKEA berbeda dengan perusahaan lainnya karena IKEA melakukannya dengan memanfaatkan storytelling sebagai upaya pemasaran produknya. Salah satu iklan yang menarik adalah iklan dengan judul “Dongeng Sang Ayah” yang menceritakan tentang salah satu katalog terbarunya. Peluncuran katalog merupakan hal yang biasa hanya saja IKEA mengemasnya dengan cara yang unik yaitu menceritakan tentang katalog tersebut kepada anaknya seolah-olah menceritakan sebuah dongeng Selain IKEA perusahan besar yang juga menggunakan teknik storytelling dalam periklanannya adalah Nike dan Coca-Cola.Sebagai alat untuk branding, storytelling mengikat merek dengan nilai dan emosi, menambahkan otensitas, dan sense of quality pada produk serta menjelaskan bagaimana produk dan jasa dibedakan dari kompetitor Hubungan antara branding dan storytelling semakin meningkat dalam era digital. Pertukaran opini secara massif mengenai perusahaan dan produk mereka terdapat pada internet yang di dalamnya terdapat pertukaran cerita yang mengalir secara bebas.Banyaknya perusahaan yang sudah menggunakan storytelling sebagai alat pemasarannya, mendorong peneliti untuk mengetahui produk-produk yang menggunakan storytelling sebagai pemasaran memilikki pengaruh yang cukup signifikan kepada konsumen dalam hal membeli produk tersebut. Metode PenelitianMetode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis kualitatif yaitu suatu metode yang digunakan untuk memecahkan suatau masalah dengan cara mengumpulkan data-data, menyususn dan mengklasifiksisnya, menganalsis sehingga memberikan suatu gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif berdasarkan teori yang ada. Dalam menyusun penelitian ini, diperlukan data dan informasi yang lengkap. Peneliti mengumpulkan data-data informasi yang diperoleh dengan mengadakan penelitian langsung di lapangan dengan melakukan wawancara. Narasumber dari wawancara ini adalah oramg-orang yang telah melihat iklan storytelling suatu produk di TV maupun di Youtube.peneliti melakukan wawancara kepada 10 orang narasumberDiskusi PembahasanDalam praktek storytelling yang digunakan untuk melakukan pemasaran biasanya suatu perusahaan membuat cerita yang dibuat oleh perusahaan itu sendri ataupun cerita dari konsumen mengenai pengalaman hidup mereka dan bercerita mengenai produk yang dimiliki persusahaan tersebut. Dengan menggunakan storytelling suatu produk memiliki nilai jual tersendiri. Seperti halnya iklan coca-cola dan tokopedia, mereka menggunakan storytelling dalam iklannya. Gambar dibawah merupakan iklan produk coca-colaPeneliti memperlihatkan beberapa video iklan yang menggunakan storytelling kepada narasumber. Setelah menonton iklan tesebut para narasumber ini memiliki respon dan komentar yang cukup beragam. Hasilnya pun menunjukkan bahwa 9 dari 10 narasumber lebih tertarik dengan iklan yang menggunakan storytelling. Namun ketertarikan mereka terhadap iklan yang menggunakan storytelling ditunjang dengan beberapa aspek. Aspek pertama adalah dari segi penyajian cerita tersebut, 9 dari 10 narasumber setuju bahwa iklan yang menggunakan storytelling sebagai alat pemasaran memiliki emosional tersendiri ketika menonton iklan tersebut. Mereka mengatakan bahwa iklan tersebut memilikki nilai inspiratif dan dapat memotivasi mereka, contohnya seperti iklan coca-cola. Dalam iklan tersebut piha coca-cola menjadikan konsumen mereka sebagai pemeran utama iklan tersebut atau bisa dikatakan mereka menjadi storytellernya. Iklan tersebut bercerita tentang pembullyan yang dialami oleh konsumen mereka. Narasumber yang menonton video tersebut terlihat sangat emosional, cerita yang dibawakan pun sangat menarik untuk didengar.Aspek kedua adalah merek produk tersebut, 2 dari 10 narasumber mengatakan bahwa merek suatu produk dapat mempengaruhi nilai jual produk tersebut. Mereka memiliki anggapan bahwa sebagus apapun storytelling yang disajikan dalam suatu iklan, jika mereknya tidak terlalu terkenal maka mereka tidak cukup tertarik dengan storytelling tersebut. Lain hal jika merek yang terkenal, mereka makin tertarik jika merek yang terkenal tersebut menggunakan storytelling dalam pemasarannya.Apek ketiga adalah pemeran utama atau tokoh dalam iklan storytelling tersebut. 1 dari 10 narasumber mengatakan bahwa pemeran yang berada diiklan tersebut menentukan menarik atau tidaknya storytelling tersebut. dia menganggap jika iklan yang menggunakan artis dalam storytelling akan lebih menarik dibanding konsumen biasa yang bercerita. Beda dengan 9 narasumber lainnya yang tetap menyukai iklan yang menggunakan storytelling walaupun hanya konsumen biasa saja yang sedang bercerita.Aspek keempat adalah isi cerita dari iklan tersebut. 10 narasumber setuju mengatakan bahwa cerita yang dibawakan oleh para storyteller menentukan ketertarikan mereka kepada produk tersebut. Mereka mengatakan cerita yang bagus akan menarik minat mereka minimal untuk sekedar menonton iklan produk  dan maksimalnya mereka menjadi tertarik untuk membeli produk tersebut. 6 dari 10 narasumber lebih tertarik jika cerita yang dibawakan itu oleh konsumen produk tersebut dibanding cerita yang dibuat oleh perusahaan produk itu sendiri. Cerita yang dibawakan oleh konsumen biasanya memiliki ketertarikan tersendiri. Narasumber dapat merasakan emosi yang dibawakan oleh storyteller, sehingga narasumber ikut terbawa suasana.Kesimpulan Dari hasil diskusi tersebut terlihat jelas bahwa narasumber memiliki keterertarikan tersendiri dengan iklan yang menggunakan storytelling. Dari aspek penyajian ceritanya semua hamper setuju jika aspek ini cukup penting dalam menentukan ketertarikan mereka dengan storytelling yang dibawakan. Aspek merek dan pemeran di iklan tidak cukup mempengaruhi mereka dalam menonton iklan yang menggunakan storytelling. Mereka tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Isi cerita lah yang menentukan menarik atau tidaknya storytelling yang dibawakan, mereka lebih tertarik kepada cerita yang memiliki jalan cerita yang bagus