Latar yang dilakukan untuk mempermudah penyampaian sebuah pesan

Latar BelakangPendidikan anak usia dini (early child educatioan/PAUD) adalah masa yang paling optimal untuk berkembang. Pada masa ini sangat penting dilaksanakan pendidikan secara bersama sebagai dasar pembentukan kepribadian manusia dewasa secara utuh, mulai dari pembentukan karakter, tauladan berbuat baik, penanaman budi pekerti luhur, kecerdasan, keterampilan dan pengenalan terhadap Tuhan pencipta alam semesta. Pendidikan anak usia dini tidak hanya pada penguasaan calistung saja, tetapi harus lebih tinggi dari itu dengan mengembangkan semangat sebagai penemu cilik, mengembangkan kreativitas, memiliki percaya diri, kemampuan berinteraksi, dan mengaplikasikan pemahaman tentang nilai-nilai kebaikan.Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain yang mencakup semua cara untuk berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang, gambar, atau lukisan. Melalui bahasa setiap manusia dapat mengenal dirinya, sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama. Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan, karena bahasa menghubungkan lainnya dengan melalui proses berbahasa yang dapat menyampaikan pesan/maksud yang ingin disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain akan memahami apa yang disampaikan. Perkembangan bahasa anak merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki anak.Metode bercerita merupakan metode pembelajaran yang dilakukan untuk mempermudah penyampaian sebuah pesan kepada anak usia dini. Dengan menggunakan metode bercerita diharapkan anak usia dini lebih mudah memahami dan menyerap segala sesuatu hal positif yang telah disampaikan dengan suasana yang menyenangkan serta sekaligus belajar tentang beberapa hal baru. Masa usia dini merupakan rentangan usia peka, dimana dalam masa tersebut potensi anak akan berkembang sesuai dengan lingkungan tempat anak berada. Oleh karena itu, tugas guru dan orang tua untuk mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin dengan cara menyediakan lingkungan berupa kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak. Salah satu potensi anak yang sangat perlu diperhatikan adalah potensi penalarannya terhadap moral. Penalaran anak terhadap moral akan mempengaruhi pembentukan karakternya.Pengembangan karakter pada anak usia dini yang didasari dengan pengembangan nilai dan sikap anak dapat menggunakan kegiatan bercerita yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan- kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama, dan moralitas agar anak dapat menjalani hidup sesuai dengan norma yang dianut masyarakat. Metode Bercerita merupakan metode yang banyak digunakan oleh guru anak usia dini, yang disampaikan dapat berupa pesan, informasi atau sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan cara yang menyenangkan.Cerita digital dapat didefinisikan sebagai pengisahan cerita yang dilakukan dengan menggunakan teknologi digital sebagai media atau metode ekspresi, khususnya dengan menggunakan media digital di lingkungan jaringan komputer. Pengisahan cerita digital mencakup karakteristik utama ini: Fleksibilitas, universalitas, interaktivitas dan pembentukan komunitas). Fleksibilitas dalam cerita digital mengacu pada penciptaan cerita non linier dengan menggunakan teknologi media digital. Universalitas berarti siapapun bisa menjadi penghasil cerita digital, karena tersedianya komputer dan perangkat lunak yang mudah digunakan. Interaktivitas mengacu pada partisipasi pengguna dalam pengembangan cerita dengan menggunakan karakteristik media yang bisa saling dipertukarkan.Mendongeng atau storytelling merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif, sehigga menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan ini lah yang dapat menumbuhkembangkan keterampilan berbicara sebagai keterampilan berkomunikasi dan seni. Kegitan ini dapat dilakukan oleh guru sebagai pemimpin di hadapan para murid secara langsung baik dengan cara bercerita, beryanyikan dengan musik atau tanpa musik, dengan gambar atau dengan alat peraga lain yang dapat di pelajari oleh guru secara lisan atau visual melalui sumber tercetak, ataupun melalui sumber rekaman mekanik. Storytelling dapat menggambarkan peristiwa yang sebenarnya maupun berupa fiksi serta penggambaran tentang kehidupan yang dapat berupa gagasan, kepercayaan, pengalaman pribadi, pembelajaran tentang hidup melalui sebuah cerita.  Kemampuan bahasa merupakan salah satu bagian yang menjadi hal penting dalam kehidupan seseorang,  sebab tanpa bahasa manusia tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan ide, gagasan pikiran, dan perasaan kepada manusia lainnya baik dalam situasi formal maupun situasi non formal. Bahasa merupakan sarana dalam berkomunikasi dengan orang lain dan kemudian terjadilah suatu interaksi. Setiap individu pasti bergaul dan berkomunikasi,untuk mencari informasi serta mengendalikan pikiran, sikap dan perbuatan dengan menggunakan bahasa. Kegiatan storytelling ini penting untuk dilakukan terutama dalam massa tumbuh kembang anak. Selain itu, mendongeng juga memiliki manfaat bukan hanya bagi anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Kegiatan pembelajaran melalui storytelling, anak akan merasa belajar membaca itu menyenangkan sehingga kesan pengajaran tidak secara terpaksa. TujuanTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana kegitan storytelling ini berlangsung di TK Atsiri Permai sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan ini memberikan dampak positif bagi anak-anak dalam meningkatan bahasa.  MetodePenelitian ini dilakukan pada kelompok TK Atsiri Permai Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun Pelajaran 2016-2017 dengan jumlah 20 anak yang terdiri dari 11 anak perempuan dan 9 anak laki-laki. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode kualitatif dalam pengumpulan data. Peneliti melakukan wawancara terhadap 2 guru yang mengajar di TK Atsiri Permai, yaitu dengan Ibu Nina Suyani, S.Pd dan Ibu Nuryaningsih S.Pd. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kolaboratif, yaitu peneliti bekerjasama dengan guru ke dalam melaksanakan penelitian. Untuk melakukan analisis data kualitatif ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulanPembahasanMenyajikan storytelling yang menarik bagi anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu singkat, jika waktu mendongeng yang dilakukan terlalu lama akan membuat anak merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi terhadap cerita. Dengan adanya kegiatan storytelling tentu dapat memberikan pengaruh pada anak. Pengaruh tersebut dapat berupa pertumbuhan minat baca. Storytelling merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif atau pengetahuan, afektif atau perasaan, sosial, dan aspek konatif atau penghayatan anak-anak. Indonesia memiliki keragaman cerita baik dari sejarah, tradisi atau penggabungan  keduanya dengan berbagai genre di dalamnya  baik tertulis, lisan dan e-stroytelling seperti cerita pendek, masa kerajaan, fiksi, non fiksi, sehingga guru memiliki ketersedian cerita yang banyak. Pada dasarnya setiap anak pasti sudah memiliki kemampuan berbahasa lisan pada dirinya masing-masing, hanya saja hal ini tergantung bagaimana guru menstimulasi kemampuan tersebut. Sesuai hasil pengamatan dan temuan peneliti selama melakukan pelaksanaan tindakan terdapat beberapa masalah yang menyebabkan kemampuan berbahasa lisan pada anak masih berada pada kriteria kurang. Setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual kemampuan berbahasa lisan anak meningkat dengan cukup baik ini terbukti dari hasil penelitian berupa catatan lapangan dan hasil wawancara guru, menunjukkan terjadinya perubahan perilaku anak dalam kemampuan berbahasa secara lisan. Kemampuan berbahasa lisan anak-anak TK Atsiri Permai setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual mengalami peningkatan baik pada setiap aspeknya maupun pada setiap indikatornya.Mendongeng tidak semata hanya pengantar tidur tentang mitos atau sejenisnya, tetapi juga kejadian-kejadian nyata yang dikemas sedemikian rupa dengan bantuan teknologi sehingga menarik dan kaya pesan moral. Cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan moral dan humanisme bisa saja isi atau jalan cerita diubah, sesuai nilai-nilai budaya lokal, norma atau agama. Efek dari aktivitas ini cenderung membentuk kepribadian anak menjadi baik dan secara tidak langsung mengajarkan budaya lokal tersebut sebagai aset yang tidak ternilai harganya.Metode-metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara menurut (Drs. Djago Tarigan : 1987,  91-129) yaitu : Metode atau teknik pengajaran berbicara yaitu : 1) Ulang Ucap, 2) Lihat dan Ucapkan, 3)Mendeskripsikan, 4) Substitusi, 5) Transformasi, 6) Melengkapi Kalimat, 7) Menjawab pertanyaan, 8) Bertanya, 9) Pertanyaan menggali (Probing Questions), 10) Melanjutkan Cerita, 11) Cerita berantai, 12) Menceritakan kembali, 13) Percakapan, 14) Paraphrase, 15) Reka cerita gambar, 16) Memberi petunjuk, 17) Bercerita, 18) Dramatisasi, 19) Laporan pandangan mata, 20) Bermain peran, 21) Bertelepon, 22) Wawancara, 23) Diskusi. Metode Storytelling (bercerita) sudah sesuai dengan prinsip keterampilan berbicara dan metode-metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Metode Storytelling (bercerita) dengan media auio visual  merupakan metode pembelajaran yang berusaha untuk mengasah kemampuan bebahasa lisan  anak melalui kegiatan bercerita tentang suatu masalah atau cerita. Cerita dapat digunakan pada bahasa dengan berbagai tujuan, termasuk memperbaiki bahasa, peningkatan kemampuan baca tulis, menginformasikan literatur bahasa. Cerita dapat dikenalkan dengan membaca suatu teks melalui suara yang keras, irama,  bentuk bahasa dengan kontektual agar dapat melibatkan peserta didik kepada gagasan dan isu-isu yang dibahas pada cerita. Dengan adanya cerita memberikan sumber informasi budaya, konteks dari cerita, serta menyediakan tempat untuk mempertimbangkan bagaimana budaya dan bahasa dapat terjalin. Cerita juga digunakan untuk mendidik, menanamkan nilai moral, menghibur, serta memberikan pemahaman budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan mendogeng dapat menghasilkan berbagai kesamaan pemahaman, mengabadikan sejarah, hingga mengaitkan antara pengalaman dan bahasa. Cerita tentang pengalaman anak dan faktor tradisional merupakan sumber cerita terbaik bagi anak-anak. Ada beberapa kategori cerita yang dapat digolongkan, yakni cerita untuk program inti, cerita untuk program pembuka, dan cerita untuk tujuan rekreasi pada akhir program. Cerita untuk program inti, yang digunakan dalam kegiatan inti cerita ini, disampaikan oleh guru sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Misalnya cerita tentang bebek si buruk rupa. Cerita ini menggambarkan seekor bebek yang buruk rupanya, namun hatinya baik dan suka menolong. Dari cerita ini, tujuan pembelajaran yang ingin ditanamkan guru yaitu menanamkan rasa saling tolong-menolong dan tidak membeda-bedakan teman. Cerita untuk program pembuka dan penutup, disampaikan pada kegiatan inti dan penutup. Yang menyampaikan adalah anak, sedangkan guru hanya memberikan stimulasi. Misalnya, anak bercerita mengenai pengalamannya sehari-hari dalam berbagai hal yang dilakukan. Adapun cerita untuk tujuan rekreasi disampaikan pada akhir program. Cerita ini disampaikan oleh anak setelah anak melakukan liburan akhir minggunya.HasilDari wawancara yang dilakukan kepada beberapa anak di dapati siswa merasa senag saat mendengarkan cerita yang disampaikan guru dan juga dapat mereka dapat mengetahui serta memperbaiki bahasa yang  digunakan mesekipun tidak maksimal. Kegitan bercerita ini memberikan dampak positif bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa yang baik, selain itu siswa juga dapat melatih daya tangkap apabila kegiatan storytelling dilakukan secara maksiamal. Namun dari hasil yang didapati untuk mencapai keterampilan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan bantuan storytelling ini tidak berjalan maksimal. KesimpulanBerdasarkan hasil analisis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut bahwa melalui kegiatan Storytelling dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan pada anak-anak TK Atsiri Permai. Peningkatan ini disebabkan setelah adanya isi ceritanya lebih sederhana, cerita yang ditampilkan menarik dan diiringi dengan memberikan motivasi kepada anak serta anak-anak pun menjadi sangat antusias ketika penerapan storytelling ini dilakukan.SaranDiharapkan dalam penerapan storytelling (bercerita) guru lebih mampu menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan bercerita dan meningkatkan kemampuan kompetensi dalam bercerita melalui pelatihan agar lebih mampu menjiwai cerita. Dan untuk menjadikan anak memiliki budaya baca yang baik, maka perlu melakukan pembinaan minat baca anak baik kepada guru maupun sekolahan. Pembinaan ini merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca.