Perkembangan dampak yang merugikan yaitu berupa terjadinya peningkatan

Perkembangan industri melibatkan berbagai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Novfirman et al., 2013). Kemajuan teknologi sendiri telah mengangkat standar hidup manusia. Namun, kemajuan teknologi juga mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan yaitu berupa terjadinya peningkatan pencemaran lingkungan, kecelakaan kerja, dan timbulnya berbagai penyakit akibat kerja (Nur’aini, 2015). World Health Organization (WHO) Tahun 2010 menyebutkan bahwa adanya alat-alat produksi dan mesin-mesin pada pabrik sebagai penerapan kemajuan teknologi menghasilkan intensitas suara yang dapat menyebabkan kebisingan dan mengganggu kesehatan (Imas, 2015).Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No.13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/ atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Rahmawati (2015) menyebutkan bahwa kebisingan merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik karena merupakan salah satu faktor yang tidak luput dari lingkungan kerja sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan para pekerja. Menurut WHO Tahun 1995, diperkirakan hampir 14% dari totaltenaga kerja negara industri terpapar kebisingan lebih dari 90 dBA (Oktarini, 2010).Gangguan kesehatan akibat kebisingan dapat dibagi menjadi dua, yaitu dampak auditorial dan nonauditorial (Basner et al., 2013). Sejak tahun 1940, polusi suara atau kebisingan telah dianggap sebagai penyebab utama gangguan pendengaran dan ketulian pada orang dewasa (Rios & Silva, 2005). Namun di samping itu, kebisingan juga dapat menyebabkan berbagai gangguan lain seperti gangguan fisiologis, psikologis, dan komunikasi. Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah (Luxson et al., 2010).