Syariat dengan berdagang. Allah berfirman, Dia-lah yang menjadikan

Syariat yang telah
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tidak terikat pada tempat,
waktu, dan ada atau tidaknya beliau, namun bagaimana sebuah negara beserta
warganya menerapkan syariat Islam. Sehingga apa yang sudah kita lihat dari cara
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam membangun negara, dapat pula
diaplikasikan di Indonesia. Pengaplikasian dari syariat Islam yang dapat
diterapkan di Indonesia sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu’alaihi
wa Sallam menurut Yazid (2013) adalah,

a.      
Bekerja Sebagai Kewajiban Warga
Negara

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Setiap orang
yang hidup dalam masyarakat Islam seperti Indonesia diwajibkan bekerja atau
mencari nafkah. Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam melarang seseorang
untuk meminta minta dan mengharuskan seseorang untuk bekerja dan berkelana di
muka bumi ini serta makan dari rezeki Allah Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu’alaihi
wa Sallam menerangkan bahwa beliau bekerja dengan menjadi penggembala
kambing. Demikian pula dilakukan oleh para sahabat nabi yang bekerja dengan
berdagang.

Allah berfirman,

Dia-lah yang menjadikan bumi
untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan
makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk :15)

Ada sekelompok orang yang
enggan dan malas bekerja dengan dalih “Bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla”.
Pendirian seperti ini tidak dibenarkan oleh Islam. Bertawakal kepada Allah Azza
wa Jalla bukan berarti diam dan tidak bekerja. Tawakal adalah berusaha,
berikhtiar sambil berdoa dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah Azza
wa Jalla saja. Sebagai Muslim, hendaklah kita berpedoman kepada sabda
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ketika ada seseorang yang
membiarkan untanya terlepas, tanpa diikat, dengan dalih bertawakal kepada
Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya dengan mengatakan,

Ikatlah dulu untamu itu
kemudian baru engkau bertawakkal.1

b.     
Membantu Keluarga yang Lemah

Setiap
Individu diwajibkan untuk menghilangkan kemiskinan pada dirinya dan keluarganya
dengan bekerja. Namun di samping itu, harus pula seorang muslim untuk membantu kerabatnya
yang tidak mampu bekerja.

Konsep yang
dikemukakan untuk menanggulangi kemiskinan adalah dengan memberikan jaminan
hidup untuk keluarganya dan keluarga lain. Islam memerintahkan antar anggota
keluarga dan juga meringankan penderitaan anggota keluarga yang lain. Allah Azza
wa Jalla berfirman,

Orang-orang yang mempunyai
hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang
bukan kerabat) menurut Kitab Allah.

(Q.S. Al-Anfâl :75)

c.      
Zakat

Pada setiap
harta orang kaya ada hak orang miskin, dan Allah sudah mengaturnya dengan
kewajiban zakat. Usaha Islam dalam menanggulangi kemiskinan itu bukanlah suatu
usaha setengah-setengah. Pemberantasan kemiskinan, bagi Islam justru merupakan
salah satu asas yang khas dan fundamental. Tidak mengherankan kalau zakat yang
telah dijadikan oleh Allah sebagai sumber jaminan hak-hak orang-orang fakir
miskin itu tersebut ditetapkan sebagai rukun Islam yang ketiga.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

Sesungguhnya zakat itu hanyalah
untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya
(mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang,
untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai
kewajiban dari Allah. Allah Maha mengetahui, Maha bijaksana. (Q.S. At-Taubah :
60)

d.     
Memenuhi Hak selain Zakat

Di samping
zakat, masih ada hak-hak lain yang wajib dipenuhi seorang Muslim karena
keterikatannya dalam tempat dan hubungan dirinya seperti kurban, kafarat sumpah,
kafarat karena sanksi, fidyah bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa, hak
tanaman pada saat mengetam, dan hak untuk mencukupi orang miskin baik dari
masyarakat maupun pemerintah.

Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak patut dinamakan orang
yang beriman, orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang sedangkan
tetangganya yang berada di sampingnya menderita lapar, padahal ia
mengetahuinya.2

e.      
Sedekah

Seorang muslim yang baik akan
senantiasa ringan tangannya untuk bersedekah. Baginya harta yang ia miliki tidak
bermanfaat sebelum disedekahkan. Ia senantiasa senang bersedekah baik secara
terang-terangan maupun dikala sendiri. Baginya sedekah bukanlah sekedar bisnis
untuk mendapatkan harta dan penghargaan, lebih dari itu ia berharap agar sedekahnya
mampu menyelamatkannya di akhirat. Sifat inilah yang selalu ditanamkan dalam
Al-Quran dan Hadits, seperti sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Siapakah di antara kalian yang
mencintai harta ahli warisnya lebih daripada mencintai hartanya sendiri? Mereka
menjawab, “Wahai Rasulullah! Tidak ada seorang pun di antara kami melainkan
lebih mencintai hartanya sendiri.” lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya hartanya
sendiri itu ialah apa yang telah dipergunakannya (disedekahkannya) dan harta
ahli warisnya ialah apa yang ditinggalkannya.3

 

Metode-metode tersebut
sebenarnya sudah dilaksanakan di Indonesia, namun belum optimal sehingga efek
darinya belum terlihat dengan jelas. Masyarakat cenderung menjadi terus
mengarahkan metode penyelesaian masalah yang berkiblat pada barat, sehingga
turut mempengaruhi budaya, etika, dan pemikiran yang terus luntur oleh doktrin
kebarat-baratan.

Allah bersumpah bahwa iman
tidak akan sah dan benar kecuali dengan tiga hal,

1.     
Menyelesaikan setiap perkara dan
perselisihan pada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

2.     
Merasa puas dengan apa yang telah
diputuskan olehnya dan tidak merasa berat hati atas putusan tersebut.

3.     
Menerima sepenuhnya atas putusan
tersebut dan melaksanakannya tanpa menunda dan menyelewengkannya.

Allah berfirman,

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Maidah
: 44)

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang yang zalim. (Q.S.
Al-Maidah : 45)

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik. (Q.S.
Al-Maidah : 47).

            Menurut
Muhammad (1998),” Jika seseorang tidak memutuskan suatu perkara dengan apa yang
diturunkan Allah dengan maksud mengejek, melecehkan, atau ia berkeyakinan ada
teori lain yang lebih bagus maka ia telah kafir dan keluar dari Agama Islam. Di
antara mereka adalah yang membuat hukum yang bertentangan dengan Islam.
Kemudian jika seseorang tidak memutuskan perkara sesuai hukum Allah tanpa ada
unsur melecehkan namun meyakini hukum lainnya lebih baik daripada hukum Allah,
maka ia termasuk orang-orang zalim, bukan termasuk kafir, namun derajat
kezalimannya tergantung apa yang ia putuskan. Dan yang terakhir, bila
menerapkan selain hukum Allah tanpa ada unsur melecehkan dan ia meyakini hukum
Allah adalah yang terbaik namun ia hanya ingin mencari perhatian di hadapan
manusia, maka ia termasuk orang fasik dan derajat kefasikannya tergantung apa
yang ia putuskan.”

            Tapi
perlu dititikberatkan bahwa pelaksanaan hukum-hukum Islam tidak bisa
semena-mena dipropagandakan atau bahkan melakukan kudeta terhadap pemimpin.
Sebagai seorang muslim diwajibkan untuk taat kepada pemimpin selama perintahnya
tidak bertentangan dengan hukum Islam. Bukan seperti khawarij yang
selalu menjelekkan, memberontak, dan berusaha mengambil alih kekuasaan pada
pemimpin. Namun kembali kepada kaidah awal, yaitu dengan menegakkan tauhid
terlebih dahulu pada setiap warga negara untuk menjadikan negara yang baik,
sejahtera, dan bebas kemiskinan.

 

 

 

 

 

1
Hasan: HR. at-Tirmidzi (no. 2517).

 

2
Shahîh: HR. al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 112), ath-Thabrâni dalam
al-Mu’jamul Kabîr (no. 12741), al-Baihaqi dalam Syu’abul imân (no. 5272), dan
lainnya. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 149).

3
Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 6442)