Transportasi kemacetan yang timbulkan oleh para pengemuditransportasi online

Transportasi merupakan pemindahan barang maupun manusia dari satu tempat ke tempatlainnya, terdapat tiga komponen dalam kegiatan transportasi yakni adanya muatan yangdiangkut, kendaraan sebagai alat angkut, dan jalan yang dapat dilalui. Transportasi dari masake masa pun makin berkembang dan makin bervariasi mulai dari transportasi darat, laut, danudara. Transportasi merupakan suatu kebutuhan sehari-hari bagi manusia dalam menjalankandan mempermudah berbagai aktifitas manusia. Transportasi juga berguna sebagai ladangmata pencaharian bagi manusia. Banyak orang yang memiliki profesi di bidang transportasidiantaranya seperti ojek, bis, taksi, dan lain-lain. Di era yang modern ini, teknologi semakincanggih dan semakin mempermudah manusia dalam banyak hal termasuk bidangTransportasi. Seperti yang diketahui, pada tahun 2015 sudah mulai marak Transportasiberbasis online yang dapat diakses melalui aplikasi yang tersedia di dalam gadget yangdigunakan oleh masyarakat sebagai sarana komunikasi. Namun kemudian, muncul beberapapertanyaan seperti apa saja dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan Transportasi?dan bagaimana respon masyarakat dan pemerintah terhadap Transportasi Online? Dalamartikel ini, saya akan membahas mengenai dampak dari maraknya penggunaan TransportasiOnline dan respon dari masyarakat serta pemerintah terhadap Transportasi Online.Transportasi Online merupakan suatu penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yangberjalan dengan mengikuti serta memanfaatkan perkembangan teknologi yang berbasisaplikasi baik untuk pemesanan maupun pembayaran. Beberapa perusahaan transportasionline yang beroperasi di Indonesia dan banyak digunakan oleh masyarakat adalah Uber,Grab, dan Go-jek. Mengenai peroperasian transportasi yang berbasis online di Indonesiasendiri sudah ada perizinan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub)dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tanggal 1 April 2016 yaituPeraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32 Tahun 2016. Adapun isi dariPermenhub No. 32/2016 adalah perusahaan berbasis online harus memiliki izinpenyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek dan dikenakan biaya sebagai penerimaannegara bukan pajak (PNBP), dan syarat selanjutnya perusahaan harus memiliki badan hukumIndonesia. Namun, peraturan tersebut mendapatkan respon negatif dari pihak perusahaanTransportasi Online terkait syarat teknis dan keamanan yang diterapkan, diantaranyapersyaratan uji Kir dan ketetapan tarif yang digunakan. Atas adanya respon negatif tersebut,maka pemerintah dan pihak perusahaan transportasi berbasis online melakukan negosiasiulang sehingga pemerintah mengeluarkan revisi Permenhub No. 32/2016. Beberapa peraturanyang direvisi adalah minimal kapasitas silinder mesin kendaraan dari 1300 cc menjadi 1000cc, tanda uji berkala kendaraan bermotor, persyaratan kepemilikan pool, tarif transportasiberbasis online.Adanya Transportasi Online di kalangan masyarakat dianggap membuka lapanganpekerjaan baru dan membantu serta mempermudah dalam menemukan transportasi dengancepat oleh para pengguna Transportasi Online, saya sebagai pengguna Transportasi Onlinejuga mengakui hal tersebut. Namun selain itu, Transportasi Online juga menimbulkanberbagai macam masalah, diantaranya timbul persaingan antara Transportasi Online denganTransportasi Konvensional dikarenakan Transportasi Online dianggap sebagai ancaman bagiTransportasi Konvensional. Kemudian, kemacetan yang timbulkan oleh para pengemuditransportasi online yang sedang mencari atau menunggu pesanan yang biasanya dapat kitatemui di trotoar maupun bahu jalan. Kemacetan yang timbul juga disebabkan olehTransportasi Online yang membuat pengguna merasa lebih nyaman menggunakanTransportasi Online yang bersifat pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum yangdigunakan secara bersama-sama penumpang lainnya, sehingga banyak masyarakat mulaimeninggalkan transportasi umum.Terlebih lagi, CEO dari salah satu perusahaan Transportasi Online, Travis Kalanickmengatakan kepada Steve Jurvetson dari Tesla, bahwa perusahaannya ingin membeli 500ribu mobil tanpa awak yang diproduksi Tesla hingga 2020 nanti. Tetapi untuk membuat halini terwujud mungkin memang akan sulit, apalagi untuk mendapatkan kepercayaanpemerintah, dan juga mobil tanpa awak masih dipertanyakan keamanannya. Jika perusahaanTransportasi Online ini berhasil mewujudkan rencana tersebut, Apakahh perusahaanTransportasi Online lainnya akan mengikuti jejak ini? dan bagaimana nasib orang yangberprofesi sebagai pengemudi Transportasi Online? tentunya mereka akan kehilanganpekerjaan dan menjadikan angka pengangguran menjadi sangat meningkat, apalagi rencanamobil tanpa awak tersebut memiliki tujuan agar pihak perusahaan Transportasi Online tidaklagi harus berbagi keuntungan tangan pengemudi-pengemudi Transportasi Online.Pada saat ini keberadaan Transportasi Online sudah tidak bisa lagi diabaikan atau dibatasiapalagi dihilangkan. Dari kenyataan tersebut, maka pemerintah harus memberikan payunghukum yang jelas sehingga dapat menjembatani semua kebutuhan yang sudah timbul ataskeberadaan Transportasi Online. Hal ini juga dinyatakan oleh Menteri Perhubungan, BudiKarya Sumadi di Mabes Polri pada tanggal 21 Maret 2017, “Kita atur supaya adakeseimbangan antara konvensional dan online. Bahkan kita harapkan ada asimilasi darikonvensional dan online, sehingga terjadi sistem transportasi yang menghidupi, yangmemberikan penghidupan, memberikan pelayanan ke masyarakat, tetapi memilikikecanggihan yang baik” . Dengan demikian, pelaksanaan Permenhub No.32 harus diawasipenerapannya serta dilakukan proses pengkajian sesuai dengan kondisi Pemda setempatsehingga peroperasian Transportasi Online dapat berjalan dengan baik dan dapatmeminimalisir semua dampak negatif.