Tujuan juga bisa dikembangkan melalui beberapa program sekolah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
(1) strategi
kepala sekolah dalam membangun hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi komunikasi dengan masyarakat, membangun mitra kerjasama dan keterbukaan informasi,
(2) penyusunan program hubungan sekolah
dengan masyarakat melibatkan
kepala sekolah, guru, dan karyawan/TU yang kemudian disetujui oleh komite
sekolah, (3) kendala yang dihadapi sekolah
dalam mengembangkan hubungan masyarakat yakni masyarakat dan orang tua yang pasif, kesibukan dari masing-masing
pihak, latar belakang perekonomian dan guru kurang akrab,
dan (4) upaya kepala sekolah dalam mengembangkan partisipasi masyarakat yakni, komunikasi
dengan komite sekolah, masyarakat, orang tua dan paguyuban kelas. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan rancangan penelitian multisitus.

 

Kata kunci: Kepemimpinan
kepala sekolah, partisipasi masyarakat

 

Sekolah sebagai
salah satu bentuk organisasi formal mempunyai tujuan untuk membentuk karakter
peserta didik agar lebih baik, begitu pula dengan menjalin komunikasi dengan
masyarakat maupun orang tua. Untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut sekolah
membutuhkan adanya suatu kepemimpinan. Kepemimpinan kepala sekolah berdasarkan,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan bahwa terdapat 5 dimensi kompetensi seorang
Kepala Sekolah, yakni: kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi
kewirausahaan, kompetensi supervisi dan kompentensi sosial. Sebagai seorang
pemimpin, diharuskan memiliki 5 kompetensi seperti yang telah dipaparkan. Salah
satu kompetensi itu adalah kompetensi sosial, dimana dimensi kompetensi sosial
dijabarkan dengan beberapa kompetensi. Kompetensi itu meliputi, (1) bekerja
sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah, (2) berpartisipasi
dalam kegiatan sosial kemasyarakat, (3) memiliki kepekaan sosial terhadap orang
atau kelompok lain. Kompetensi sosial juga dapat diterapkan ketika kepala
sekolah berhubungan dengan masyarakat. Jiwa sosial yang dimiliki kepala sekolah
bisa menambah mitra kerjasama sekolah dengan instansi lain yang merupakan
instansi pendidikan maupun non-pendidikan, disamping untuk menambah mitra
kerjasama, kompetensi sosial ini juga bisa dikembangkan melalui beberapa
program sekolah dengan masyarakat. Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede dalam mengembangkan
kompetensi sosial yakni melalui program sekolah seperti green school festival/GSF yang melibatkan 40% partisipasi
masyarakat. Kepala SDN Tunjungsekar 5 dalam hal mempengaruhi orang lain adalah
dengan ‘mengorangkan’ orang sedangkan, Kepala
SDN Ketawanggede dapat mempengaruhi orang lain seperti orang tua, ketika akan
melakukan penyusunan program melakukan need
assessment kepada beberapa walimurid dengan cara beliau yaitu blusukan.

 

 

METODE

Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi dan pengamatan. Langkah
dari penelitian ini mula-mula mengumpulkan data dari lapangan, kemudian
menganalisis data pada situs pertama dan kedua yaitu SDN Tunjungsekar 5 dan SDN
Ketawanggede Kota Malang. Analisis di kedua situs menghasilkan temuan sementara
dan kemudian peneliti melakukan perbandingan data yang nantinya akan ditemukan
persamaan dari kedua sekolah tersebut. Key Informan pada
penelitian ini adalah kepala sekolah, sedangkan data
pendukung lainnya adalah informan
tambahan seperti guru, komite
sekolah,
dan orang tua. Selain itu
terdapat data berupa dokumentasi  dan
hasil pengamatan atau biasa disebut dengan yang dilakukan oleh peneliti. Pengecekan
keabsahan data digunakan peneliti untuk mempertanggungjawabkan data yang telah
diperoleh. Pengecekan keabsahan data dilakukan kredibilitas,
karena dengan kredibilitas (credibility)
sudah mencukupi untuk dilakukan pengecekan keabsahan data. Kredibilitas itu
meliputi triangulasi, pengecekan anggota, meningkatkan
ketekunan, dan kecukupan bahan referensi.

 

HASIL

Strategi
Kepala Sekolah Membangun Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Strategi kepala SDN
Tunjungsekar 5 dalam membangun hubungan sekolah dengan masyarakat yaitu dengan
melakukan komunikasi dan keterbukaan informasi antara sekolah dengan
masyarakat, membangun mitra kerjasama dengan instansi lain, dan timbal balik
antara sekolah dengan masyarakat. Strategi yang diterapkan sekolah pun
memberikan hasil yang memuaskan tentunya untuk sekolah yakni, masyarakat maupun
orang tua peserta didik merasa memiliki sekolah dengan ikut serta
berpartisipasi ketika kegiatan yang dilaksanakan sekolah. Bahkan dari pihak
sekitar sekolah seperti tokoh masyarakat (RT dan RW) pun jika membutuhkan
sekolah akan langsung datang dan meminta bantuan, begitupula dengan sekolah
jika membutuhkan bantuan dari masyarakat sekitar akan dibantu. Orang tua
peserta didik yang tidak tergabung dalam paguyuban pun antusias setiap ada
pelibatan ketika program sekolah dilaksanakan.

Strategi Kepala SDN Ketawanggede yang digunakan oleh
kepala sekolah dalam membangun hubungan sekolah dengan masyarakat yakni,
mencari mitra kerjasama diluar
instansi pendidikan agar dapat mempermudah
program-program yang akan dilaksanakansekolah,
instansi lain yang menjadi mitra kerjasama antara SDN Ketawanggede diantaranya teh botol, pariwisata (tirtasani), Dinas Lingkungan Hidup atau
DLH, Puskesmas, kelurahan, RT dan RW. Kedua, menerapkan tentang peran gorong
atau pemetaan pikiran gotong royong pada pihak terkait seperti guru, orang tua
dan masyarakat sekitar sekolah, menyampaikan program sekolah, merapatkan
program-program yang akan dilakukan sekolah dengan guru dan keterbukaan
informasi antara sekolah dengan masyarakat maupun orang tua peserta didik.

Penyusunan Program Hubungan Sekolah dengan
Masyarakat

Proses penyusunan program
sekolah
di SDN Tunjungsekar 5
yang terlibat hanya pihak internal
sekolah seperti kepala sekolah, guru dan tata usaha, sedangkan untuk komite
sekolah hanya menyetujui, mengawasi dan membantu program-program sekolah. Komite
sekolah hanya menyetujui, mengawasi dan membantu dikarenakan itulah yang
merupakan peran dari komite sekolah. Beberapa pihak terkait seperti ketua RT,
ketua RW maupun tetangga sekitar sekolah juga mengetahui program-program
sekolah melalui pemberitahuan saat akan pelaksaan program kegiatan sekolah.
Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sekolah adalah kita pertemuan atau rapat
dengan walimurid, pertemuan pun dilaksanakan ketika awal tahun ajaran baru dan
ketika pengambilan rapor tengah semester dan akhir semester.

Penyusunan program
sekolah khususnya hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Ketawanggede, melibatkan kepala
sekolah dan guru, karyawan sekolah, siswa, komite sekolah hanya menyetujui
program tersebut. Pelaksanaan program hubungan sekolah dan masyarakat pun
diketahui oleh beberapa pihak antaranya masyarakat sekitar, tokoh masyarakat
seperti Lurah, RT dan RW setempat. Sedangkan untuk bahan evaluasi didasarkan
atas masukan dari masyarakat sekitar yang tentunya juga orang tua siswa, dan
didasarkan dari Evaluasi Diri Sekolah atau EDS.

Kendala yang dihadapi Sekolah dalam
Mengembangkan Hubungan Masyarakat

Kendala menjalin
hubungan sekolah dengan masyarakat berasal dari masyarakat di SDN Tunjungsekar 5, orang tua
peserta didik atau
walimurid, komite sekolah dan guru. Kendala dari masyarakat maupun orang tua
peserta didik yakni, mereka yang cenderung pasif atau cuek dan latar belakang perekonomian keluarga. Kendala yang berasal
dari komite sekolah adalah kesibukan pekerjaan komite sekolah sehingga
kurangnya peran komite sekolah. Sedangkan, kendala dari guru sendiri yakni,
tidak semua guru bisa akrab dan mudah menyampaikan informasi kepada orang tua
peserta didik. Solusi dari kendala tersebut adalah melakukan pendekatan khusus
dengan menyampaikan program sekolah, mengkomunikasikan program yang akan
dilaksanakan pada masyarakat dan komite sekolah, mengundang masyarakat sekitar
sekolah ketika ada kegiatan di sekolah, mengevaluasi kinerja guru saat selesai
melaksanakan kegiatan sekolah, dan menerima sumbangan sukarela dari orang tua
peserta didik atau subsidi silang.

Kendala yang dihadapi
sekolah dalam mengembangkan hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Ketawanggede adalah masyarakat dan orang
tua yang pasif atau cuek terhadap program-program sekolah maupun kegiatan yang
dilakukan sekolah, salah persepsi dari pihak masyarakat dan orang tua dalam
penyampaian program yang akan dilaksanakan, kesibukkan dari masing-masing orang
tua ketika diadakan rapat, latar belakang perekonomian orang tua peserta didik,
dan belum semua guru mengenal lingkungan dan karakter masyarakat dan orang tua.
Solusi dari masing-masing kendala tersebut adalah kepala sekolah terjun
langsung ketika terdapat masalah di paguyuban kelas, mengikutsertakan beberapa
pihak sekolah dalm kegiatan masyarakat sekitar, melakukan pendekatan dan
pengertian pada masyarakat dan orang tua mengenai program sekolah yang akan
melibatkan masyarakat maupun orang tua peserta didik.

Upaya Kepala Sekolah dalam Mengembangkan
Partisipasi Masyarakat

Upaya sekolah dalam
melakukan pengembangan partisipasi masyarakat di SDN Tunjungsekar 5 yakni dengan memperbaiki
beberapa bidang yang ada di sekolah seperti sarana dan prasarana, kurikulum,
keuangan, sumber daya manusia, peserta didik. Selanjutnya sekolah akan tetap
melakukan komunikasi dengan masyarakat sekitar dan orang tua agar informasi
yang ada di sekolah tidak terputus begitu saja. Upaya SDN Ketawanggede dalam meningkatkan
partisipasi masyarakat yakni, ikut serta dalam kegiatan masyarakat sekitar
sekolah dan menjalin komunikasi dengan komite sekolah dan paguyuban kelas.
Rencana SDN Ketawanggede kedepannya pun akan tetap mempertahankan partisipasi
masyarakat melalui pola adiwiyata dimana dengan pola adiwiyata ini akan
terlibat peran serta masyakat, dan tetap menjalin komunikasi dengan masyarakat
sekitar sekolah khusunya para tokoh masyarakat dan orang tua peserta didik.

 

 

PEMBAHASAN

Strategi yang dilakukan oleh
Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede yakni dengan mencari mitra
kerjasama dengan instansi lain. Sama halnya dengan pemaparan pada Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional atau Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah disebutkan bahwa terdapat 5 dimensi kompetensi seorang
kepala sekolah, salah satunya
yakni kompentensi sosial, Kepala SDN
Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede sudah mempunyai kompetensi sosial, karena
sudah bisa membangun mitra kerjasama dengan instansi lain, seperti puskesmas
setempat. Keterbukaan
informasi kepada masyarakat maupun orang tua peserta didik, termasuk dalam
layanan murid dan salah satu faktor yang mempengaruhi ketercapaian tujuan
pendidikan di sekolah. Strategi tersebut dilakukan Kepala SDN Tunjungsekar 5
dan SDN Ketawanggede dalam rangka meningkatkan pemaksimalan layanan yang
diberikan sekolah kepada peserta didik, masyarakat maupun orang tua peserta
didik. Sesuai dengan Petunjuk
Pelaksanaan Penilaian Potensi Kepemimpinan Calon Kepala Sekolah/Madrasah
(2011:6), bahwa kepemimpinan
pendidikan merupakan kemampuan menggerakkan faktor-faktor
yang mempengaruhi ketercapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Penyusunan program
hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede
melibatkan kepala sekolah, guru, dan karyawan atau tata usaha. Sedangkan untuk
pengesahan, komite sekolah terlibat didalamnya sebagai pihak yang menyetujui.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan
Komite Sekolah, bahwa peran komite sekolah yakni, (1) Pemberian pertimbangan (advisory agency), (2) pendukung
(supporting agency), (3) pengontrol
(controlling agency), dan (4) sebagai mediator.

Salah satu
kendala yang dihadapi oleh Kepala SDN
Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede, yakni latar belakangan perekonomian di kedua sekolah
ini hampir sama yakni menengah ke bawah, dan kesibukkan dari masing-masing
pihak, seperti kepala sekolah, komite sekolah dan orang tua peserta didik.
Solusi dari kendala tersebut adalah mengkomunikasikan program yang akan
dilaksanakan oleh sekolah kepada masyarakat sekitar melalui tokoh masyarakat,
orang tua melalui surat pemberitahuan atau grup whatsapp. Sesuai dengan pendapat Dwiningrum
(2011:218) partisipasi
yang ada di sekolah partisipasi
non fisik yang ada di sekolah seperti memberikan bantuan tanpa harus
mengeluarkan tenaga dan mengurangi waktu. Solusi Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede dari
masyarakat dan orang tua yang pasif yakni dengan mengkomunikasikan program yang
akan dilaksanakan oleh sekolah kepada masyarakat sekitar melalui tokoh
masyarakat, orang tua melalui surat pemberitahuan atau grup whatsapp. salah satu
karakteristik menurut Tjiptono dan Diana yakni ketrampilan komunikasi, Kepala
SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede cakap dalam berkomunikasi menyampaikan
informasi maupun membenarkan informasi yang terkadang salah persepsi di masyarakat
maupun orang tua peserta didik, tidak hanya dengan masyarakat dan orang tua
peserta didik saja Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede berkomunikasi
melainkan dengan guru yang belum bisa akrab dengan lingkungan sekitar.

Salah satu cara yang dilakukan
oleh Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede yakni, mengkomunikasikan
segala bentuk kegiatan atau kendala kepada masyarakat maupun orang tua peserta
didik dan paguyuban dan komite sekolah agar tidak terjadi kesalahan informasi
antar pihak. Upaya sekolah mengkomunikasikan
semua hal yang ada di sekolah merupakan salah satu
kunci agar sekolah dapat dipercaya oleh masyarakat maupun orang tua. Mustiningsih
(2013:33) terdapat beberapa pengertian kepemimpinan pendidikan yakni, (1) mampu
menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri bawahannya, (2)
dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja
maksimum, (3) dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai
kinerja yang memuaskan, (4) memberikan manfaat bagi yang dipimpin dan bagi
lembaga/organisasinya, (5) berani menghadapi situasi tertentu dalam
organisasinya. Berdasarkan upaya Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan SDN Ketawanggede
dalam mempertahankan partisipasi masyarakat dengan komunikasi, sesuai dengan
pendapat Mustiningsih bahwa seorang pemimpin pendidikan dapat mempengaruhi
orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum, disamping kepala
sekolah meningkatkan komunikasi juga dapat mempengaruhi masyarakat maupun orang
tua peserta didik untuk berpartisipasi dalam program sekolah.

 

KESIMPULAN

            Kepemimpinan
kepala sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di SDN Tunjungsear 5
dan SDN Ketawanggede menerapkan beberapa strategi yakni, menjalin kerjasama
dengan instansi lain, keterbukaan informasi dan mengkomunikasi program kepada
masyarakat. Proses penyusunan program pun melibatkan guru, karyawan/TU, dan
komite sekolah sebagai dewan pertimbangan untuk pengesahan program. Kendala
yang dialami sekolah dalam mengembangkan hubungan masyarakat yakni masyarakat sekitar sekolah dan orang tua yang pasif, guru
yang kurang akrab, latar belakang ekonomi menengah ke bawah, dan kesibukan dari masing-masing pihak. Upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam
mengembangkan partisipasi masyarakat yaitu mengkomunikasikan segala bentuk
kegiatan atau kendala kepada masyarakat maupun orang tua peserta didik dan
paguyuban dan komite sekolah agar tidak terjadi kesalahan informasi antar pihak.

 

SARAN

Berdasarkan
kesimpulan di atas terdapat beberapa saran untuk penelitian selanjutnya yang
relevan dengan subjek penelitian ini: (1) Kepala
Dinas Pendidikan Kota Malang, mensosialisasikan bentuk program atau kegiatan
yang dapat meningkatkan hubungan sekolah dengan masyarakat khususnya dalam
partisipasi masyarakat, seperti sosialisasi lomba pengelolaan kelas di setiap
kecamatan Kota Malang, (2) Kepala SDN Tunjungsekar 5 dan Kepala SDN
Ketawanggede Kota Malang, mengembangkan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan masyarakat sekitar sekolah, seperti program Green School Festival (GSF) yang melibatkan masyarakat sekitar
sekolah, (3) guru SDN Tunjungsekar 5 dan SDN
Ketawanggede Kota Malang, dapat lebih akrab dengan masyarakat sekitar sekolah
dengan program sekolah seperti adiwiyata yang melibatkan masyarakat maupun orang
tua, (4) mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, referensi untuk memperdalam
pengetahuan bagi mahasiswa, khususnya kepemimpinan pendidikan dan bidang
partisipasi masyarakat, dan (5) peneliti lain, subjek penelitian yang relevan
dapat memperdalam mengenai partisipasi masyarakat pada program-program yang
dilaksanakan sekolah.